Kajian Klinis dan Serovar Penyebab Leptospirosis pada Ternak dan Hewan Kesayangan
Keywords:
hewan kesayangan, gejala klinis, leptospirosis, ternakAbstract
Latar Belakang: Peran ternak dan hewan kesayangan sebagai sumber penularan penyakit zoonotik leptospirosis kadang terabaikan. Tidak semua hewan positif leptospirosis menunjukkan gejala klinis. Tingkat keparahan penyakit pada hewan sangat bergantung pada umur, spesies, serovar, dan jumlah leptospira yang menginfeksi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengkaji gejala klinis dan serovar penyebab leptopsirosis pada ternak dan hewan kesayangan.
Metode: Sampel penelitian dikoleksi dari 19 anjing, 1 kucing, 12 sapi, dan 2 domba yang semuanya seropositif leptopsirosis. Diagnosis leptospirosis secara serologis ditegakkan dengan pemeriksaan Microscopic Agglutination Test (MAT), dengan sampel dinyatakan positif jika terjadi agglutinasi pada pengenceran 1:100. Gejala klinis yang timbul, jenis serovar dan jumlah serovar leptospira yang menginfeksi dianalisis dari hewan seropositif leptospirosis.
Hasil: Tiga dari 19 anjing seropositif leptospirosis memiliki gejala klinis berupa anoreksia, muntah, gangguan hati dan ginjal oleh infeksi serovar Bataviae, sedangkan 16 anjing lainnya tanpa menunjukkan gejala klinis dengan serovar Celledoni, Javanica dan Grippotyphosa. Kucing tidak menunjukkan gejala klinis dengan infeksi serovar Tarrasovi. Dua belas sapi seropositif leptospirosis tidak menunjukkan gejala klinis dengan infeksi dominan serovar Hardjo dan Ichterohaemorrhagie. Dua domba seropositif leptospirospirosis tidak menunjukkan gejala klinis dan positif serovar Ichterohaemorrhagie.
Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa anjing menunjukkan gejala klinis saat terinfeksi serovar Bataviae. Kucing, sapi dan domba tidak menunjukkan gejala klinis sekalipun seropositif leptospirosis.